Amarah adalah salah satu hal yang menjadikan logika menjadi tertutup, terkadang tanpa kita sadari amarah datang dengan sendirinya tanpa kita minta, amarah tercipta dari keadaan dan di pupuk dengan ketidakmampuan seseorang mengendalaikan diri. Ketika kita tidak mampu mengendalikan diri kita, dan di saat keadaan tidak mendukung sesuatu yang kita inginkan, maka amarah akan datang dengan sendirinya dan akan mencoba merusak keadaan yang ada pada diri kita tanpa berfikir panjang.
Amarah bisa kita redam dengan berbagai cara, salah satunya ialah menerima apapun keadaan dengan berlapang dada tanpa harus befikiran buruk tentang keadaan yang dialaminya. Apa yang membuat diri kita tidak mampu menerima keadaan? Mengapa itu bisa terjadi pada diri kita? Kapan itu bisa terjadi pada diri kita? Siapa yang membuat itu terjadi pada diri kita? Dan bagaimana diri kita menghadapi dan memposisikan itu semua?. Tidakkah kita berfikir tentang itu.
Yang membuat kita tidak mampu menerima keadaan adalah diri kita terlalu meminta dan memkasakan apa yang diri kita inginkan tanpa ada rasa cukup dan menerima. Akan sangat berat jika kita tidak membiasakan diri dengan hal tersebut, karena semua terjadi dengan begitu cepatnya dan membuat reflek sesuai kebiasaan yang kita jalankan, dan itu semua menunjukkan kepribadian kita. Kepribadian tercipta dari sebuah kebiasaan yang kita lakukan secara terus menerus, sehingga membuat gerak tidak sadar di dalam tubuh hingga seluruh tubuh terkoneksi dengan hal tersebut dan terciptalah kepribadian. Seluruh tubuh akan terkoneksi sesuai kebiasaan yang di terapkan kecuali hati, karena hati selalu berpihak kepada kebaikan.
Ketidakmampuan itu sifatnya manusia, karena manusia adalah makhluk, yaitu mempunyai batasan tertentu supaya selalu meminta pertolongan kepada tuhannya. Jadi ketidakmampuan selalu datang kepada kita, ntah apapun kondisi yang kita alami pasti ada rasa ketidakmampuan didalamnya walaupun dalam hal sulit, mudah, senang, maupun susah. Dan jika kita tidak bisa mengolah ketidakmampuan pada akhirnya kita seperti kehilangan arah dan tujuan, sehingga kita lupa ada yang menciptakan kita, ada yang memberi kita kehidupan, dan yang selalu ada untuk kita.
Jika kita tidak mampu menghadapi keadaan yang kita alami, kita selalu ingat siapa kita,untuk apa kita hidup, dan dari siapa kehidupan ini berasal. jika kita sudah merenungi pertanyaan tersebut dengan keyakinan yang kita yakini, pasti akan muncul jawaban yang akan menyelesaikan permasalahan yang sedang kita hadapi.
Semuanya ada sebab dan juga ada akibat, jadi selalu berhati-hati dalam melangkah dan mengambil keputusan. Karena apa yang terjadi hari ini adalah pilihan yang engkau pilih di hari kemarin, dan apa yang terjadi di masa depan adalah pilihan yang engkau pilih di hari ini.
Ibnu fais
3_d_group_51622