Setiap manusia pasti memiliki tempat berdiri yang berbeda bukan yang tua saja muda, besar, kecil, dewasa maupun balita memiliki tempat berdiri yang berbeda. Semua itu tidak bisa di pungkiri karena Allah memnciptakan setiap orang berbeda bahkan yang kembar identik memiliki perbedaan walaupun tidak terlihat. Dan dari alam seharusnya kita belajar bahwa walaupun memiliki perbedaan tempat berdiri bukanya sombong atau merendah. Yang tinggi pada akhirnya juga harus menunduk ketika melihat ke bawah dan yang pendek pada akhirnya juga harus mendongkrak ketika melihat ke atas.
Hal ini saya dapatkan ketika abah mengajak saya dan teman saya ke bukit dekat pondok, lebih tepatnya di utara pondok. Bukitnya cukup dekat dan tidak terlalu menanjak ketika sampai di sebuah baru besar yang dinamai batu ungkal (bahasa jawa) yang berarti batu asah. Tidak jauh dari batu ungkal terdapat juga 2 batu beasar yang di tengah nya mengalir sungai kecil. Saya menuju ke sungai tersebut airnya lumayan jernih dan sangkat menyegarkan ditambah tidak ada satu pun ikan di sungai tersebut.
Seperti halnya perjalanan dari bawah menuju atas, jalan yang di lewati pasti penuh lika liku bahkan batu batu yang menghalagi. Tidak jarang bahkan terpeleset jatuh tetapi harus bangun lagi dan jangan menyerah terus berjalan menuju puncak yang di tuju. Dan ketika sampai ke puncak jangan lupa melihat kebawah kembali bukan untuk terjerat oleh perjalanan yang telah di lewati tetapi untuk melihat indahnya perjalanan menuju puncak tujuan. Walaupun penuh lika liku luka akibat duri dan jatuh, bahkan membawa beban yang berat tetapi terus berjuang hingga mengcapai tujuan. Setelah puas turun kembali sambil mengenang perjalanan yang telah di lalui.