Pada hari berikutnya saya dan teman-teman pun diajak sowan kepada guru-guru beliau yang sudah tiada/wafat, seperti hanya Abahnya abah(Simbah Slamet) dan juga sowan kepada salah satu guru yang beliau tidak anggap guru biasa(guru lahiriyyah wa bathiniyah), beliau yaitu Simbah Kyai Sepuh (Simbah Waqirom) yang makamnya berada di daerah Coper.beliau mengingatkan kepada kita dengan suatu pelajaran yang sangat-sangat berarti, berharga bagi saya dan teman-teman saya yaitu mengingatkan kepada kematian, setiap kehidupan pasti ada yang namanya kematian, itulah yang tidak bisa kita hindari.
Kesimpulan yang diatas yang saya dapat yaitu berkiprahlah, bertingkahlah tapi jangan sekali-kali lupa dengan yang namanya kematian.
Setelah ziaroh kemaqbaroh simbah kyai sepuh, kami pun langsung meneruskan perjalanan kepondok abah(guru kami) zaman beliau mondok, disana pun kami juga banyak mendapatkan banyak hikmah(pelajaran), abah sedikit bercerita tentang beliau zaman mondok dulu “Semenjak Simbah Kyai Sepuh masih ada, saya (ucap kata abah) sering dimarahin sama simbah kyai sepuh, sering bertanya mulu,mau ini mau itu (menjalankan mujahadah,riyadhoh dll sebagainya) tutur simbah kyai sepuh cuma menjawab udah tidak usah kebanyakan bertanya yang penting dijalankan dengan manah hati ikhlas,ridho terhadap saya(ucap simbah) lillahi ta’ala, simbah cuma menjalankan kewajiban sebagaimana antara guru dan murid itu saja”tutur abah kepada kita “itupun masih ada banyak lagi wejangan dari simbah kyai sepuh” Ya Allah! Saya pun geleng-geleng kepala sama temen-temen saya.
Tetap berusaha, terus melakukan kebaikan dan menjalankan apapun dengan keikhlasan (wejang guru).